<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7264901</id><updated>2011-04-22T04:32:43.389+07:00</updated><title type='text'>Ai's Journal</title><subtitle type='html'>This is my journal, my life, my thoughts as I noted</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ai-journal.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7264901/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ai-journal.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>lucian2k</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01545231530764454746</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://www.aseanenergy.org/ricky/images/lucia.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7264901.post-108743461406422086</id><published>2004-06-17T08:07:00.000+07:00</published><updated>2004-06-17T08:10:14.063+07:00</updated><title type='text'>TERIKAT  DAN  HILANG oleh Rm. Gani, CM</title><content type='html'>TERIKAT  DAN  HILANG &lt;br /&gt;oleh: Romo Gani, CM&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seorang teman dengan sedih bercerita tentang kepedihan hatinya. Dia kehilangan sesuatu. Aku berusaha untuk menghiburnya. Bagiku barang yang sudah hilang tidak perlu ditangisi lagi, sebab meski dia menangis sampai mengeluarkan darah barang itu tidak akan kembali. Hal yang lebih penting adalah menjaga agar lain kali tidak kehilangan kembali. Mendengar semua perkataanku orang itu menjadi marah. Menurutnya, aku bisa mengatakan semua hal yang bagus sebab aku tidak mengalami kehilangan itu. Apakah seandainya kau kehilangan bisa mengatakan hal yang sama? aku hanya terdiam. Memang sulit berbicara dengan orang yang sedang kalut. Setiap perkataan bisa ditangkap salah dan hanya menjadi bahan untuk marah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya orang itu pulang dengan menyimpan kesedihan dalam hati dan kekecewaan pada diriku yang dianggap tidak memperdulikan perasaannya.&lt;br /&gt;Dalam kesendirian aku mulai berpikir seandainya aku menjadi dia, apakah aku mampu tenang dan melakukan seperti yang aku katakan tadi? Kehilangan memang pengalaman yang tidak menyenangkan. Namun di dunia ini rasanya tidak ada yang bisa dimiliki dengan kekal. Sebentar memiliki sebentar hilang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebentar bertemu sebentar berpisah. Jika semua itu terjadi tidak jarang akan menimbulkan kepedihan di hati, kekecewaan, jengkel, frustasi, bahkan menyalahkan Tuhan yang dianggap sebagai penanggung jawab semua yang terjadi di dunia. Kekecewaan semakin mendalam jika barang atau pribadi itu semakin dekat. Semakin dicintai.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku teringat ketika masih dalam masa pendidikan dulu. Saat itu aku sangat ingin mempunyai sebuah jam tangan. Bukan sebagai asesoris keindahan penampilan, tetapi untuk melihat waktu ketika kuliah dan melakukan aneka aktifitas. Saat itu aku hanya menggunakan perasaan dan perkiraan saja dengan melihat matahari. Namun ini tidak bisa kulakukan ketika aku berada dalam ruangan. Jam tangan sangat kubutuhkan terlebih saat menjalani ujian. Suatu hari ada seorang teman yang baik hati. Melihat aku tidak mempunyai jam tangan, dia menawarkan apakah aku mau memakai salah satu jam miliknya. Aku sangat senang sekali mendapat tawaran itu. Bagiku tidak maslah meski jam yang dipinjamknan padaku merupakan jam miliknya yang paling jelek. Bagiku itu sudah merupakan kemewahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selama dua tahun jam itu melingkar di lenganku. Kemana aku pergi selalu kupakai sehingga ada lingkaran putih di kulit di lenganku. Jam itu telah menjadi bagian hidupku. Suatu hari temanku kesulitan  keuangan. Dia memintakku untuk mebeli jam tangan yang selama ini aku pakai. Sebetulnya aku ingin sekali membelinya sebab harganya sangat murah sekali. Tetapi aku tidak mempunyai uang sama sekali. Oleh karena itu temanku mengambilnya dan menjual pada orang lain. Ketika jam itu diambil kembali, hatiku sangat sedih. Aku merasa kehilangan sesuatu yang selama ini selalu melekat di tubuhku. Setiap melihat lingkaran putih did ekat pergelangan tangan, aku menjadi ingat jam itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Semula kepedihan hati dan kekecewaan membuatku menyalahkan diri, mengapa aku lahir dalam keluarga yang miskin sehingga jam tangan yang murahpun aku tidak punya? Mengapa aku membeli buku sehingga tidak mempunyai simpanan uang? Dan aneka pertanyaan yang menyudutkan. Selama beberapa hari aku masih sedih memikirkan jam tangan. Akhirnya ketika dalam kapel tanpa sengaja aku membaca kitab Ayub. Di situ aku menemukan jawaban bahwa segala sesuatu adalah titipan. Aku dititipi jam oleh temanku. Dia berhak mengambilnya setiap saat sesuka hatinya. Mengapa aku tenggelam dalam kesedihan untuk mempertahankan apa yang sebetulnya bukan milikku? Harusnya aku bersyukur sebab sudah dipercaya olehnya menggunakan sealam beberapa waktu. Jika kini jam itu kembali ke pemiliknya, amak aku harus merelakannya. Aku tidak boleh tenggelam dalam kesedihan akibat perpisahan melainkan bersyukur bahwa aku pernah menggunakannya. Pemahaman ini terus aku bawa sampai sekarang. Bahwa apa saja yang melekat padaku saat ini atau yang aku miliki hanyalah titipan dari orang atau Tuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka percaya bahwa aku akan mampu merawatnya, sehingga menitipkan padaku. Atau mereka cinta padaku. Atau dengan alasan yang tidak aku pahami sama sekali. Suatu saat dengan aneka alasan mereka berhak mengambilnya kembali. Itu adalah hak mereka, aku harus siap melepaskannya. Memang hal yang paling sulit adalah melepaskan. Titipan aku jadikan sebagai milik bahkan menyatu dengan diriku. Karena memahami sebagai milik, maka aku harus berusaha mempertahankanya dengan sekuat tenaga. Aku tidak rela orang lain yang mengambilnya atau memisahkannya dari diriku. Hal yang lebih parah adalah bila rasa kepemilikan itu menjadi rasa keterlekatan. Aku melekat erat dengan apa yang aku miliki, sehingga kalau tidak ada hal itu seolah aku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa hidup. Seluruh hidupku bergantung padanya bahkan hidupku ditentukan olehnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman pernah sangat gelisah ketika komputernya rusak. Dia berulang kali mengeluh katnya tidak bisa mengerjakan tugas-tugasnya. Aku tanya apakah semua tugasnya itu ada dalam komputer? dia mengatakan sebagian besar fole yang ada dalam komputer sangat penting sebab berisi aneka artikel dan surat-surat. Aku katakan bahwa semua file kan bisa diselamatkan dan lagi tidak akan digunakan saat ini. Namun teman ini tetap gelisah. Seolah rusaknya komputer membuat sebagian dirinya hilang. Padahal jika dia mau sekedar mengetik surat masih ada mesin ketik. Menurutnya mesin ketik tidak rapi. Ah bukankah dulu dia juga menulis surat menggunakan mesin ketik? mengapa dulu bisa sekarang tidak bisa? Bagiku dalam hal ini sudah ada sesuatu yang terbalik. Komputer sudah menjadi sarana untuk mempermudah pekerjaan, sekarng berbalik menjadi penguasa manusia. Teman ini sudah menjadi bagian dari komputer. Dia melekat erat pada sebuah benda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Orang bisa belajar dari Ayub bagaimana dia berusaha melihat semua titipan Tuhan. Ketika semua hartanya habis dan ank-anaknya mati, Ayub mengatakan "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku  akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN  yang mengambil, Terpujilah nama TUHAN !" Inilah ungkapan kepasrahan dan ketidakterlekatan pada apa yang ada dalam dirinya.&lt;br /&gt;Melihat peristiwa hidup dalam konteks Allah. Bagi Ayub semua adalah pemberian Tuhan yang bisa diambilNya setiap saat. Ini bukan hukuman Tuhan tapi memang dikehendaki oleh  Tuhan. Ayub memang masih mempertanyakan dan menuntut Tuhan, sebab Tuhan dianggap sebagai pihak yang telah dengan sewenang-wenang merampas semua miliknya sampai habis total. Semua kekayaan, keluarganya bahkan terakhir kesehatannya. Sebagai manusia biasa dia juga kecewa dan frustasi. Maka dia mengeluh lebih baik ida tidak pernah dilahirkan saja bila hanya mengalami semua ini. Dia mempertanyakan mengapa Tuhan menciptakannya hanya untuk menderita. Namun dalam pergolakan hidup yang berat yang berat dia tetap bersandar pada Tuhan. Dia tidak mengutuki dan meninggalkan Tuhan. Mempunyai sikap batin seperti Ayub memang membutuhkan perjuangan tersendiri.&lt;br /&gt;Ketika jam tanganku diambil kembali, akupun tidak jarang menggerutu. Aku mempersalahkan orang tua dan diriku yang miskin. Aku menyalahkan Tuhan yang tidak adil, sebab tidak memberi keluargaku kekayaan yang cukup. Aku menyalahkan teman yang sudah meminjamkannya. Mengapa dia tidak membiarkan aku memnggunakan terus? sebuah pengalaman kehilangan membuatku protes akan aneka hal. Aku tidak siap menerima perpisahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku tidak siap jika milikku diambil atau diminta orang. Mengingat akan situasi yang tidak menyenangkan dan melihat orang lain yang menyenangkan membuat hati semakin pedih. Akhirnya setelah mengalami proses yang panjang akhirnya aku pun sadar akan makna apa saja yang ada dalam hidupku. Ini hanya sebuah titipan. Akupun mengatakan pada diri sendiri bahwa tanpa jampunaku masih bisa mengikuti ujian. Jarang terlambat mengikuti acara sebab aku masih mempunyai jam lain. Jam yang diberikan Tuhan bagi manusia yaitu; matahari dan kicau burung.&lt;br /&gt;Aku tidak lagi melihat lingkaran agak putih dekat pergelangan tanganku. Kalau toh aku melihat, maka aku berusaha mengingat kenangan manis akan jam tanganku.&lt;br /&gt;Aku tidak mengingat saat melepaskan namun aku berusaha menghibur diri bahwa disana pernah ada sebuah jam tangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika melihat teman-temanku memakai jam, akupun mengatakan pada diriku bahwa dulu aku juga pernah memiliki. Aku berusaha membebaskan diriku dari aneka kepemilikan. Suatu saat aku membaca sebuah kalimat pendek, "Jika engkau mengasihi sesuatu biarkan dia bebas. Kalau dia kembali kepadamu, itu adalah milikmu. Jika tidak anggap saja tidak pernah ada." Inilah yang membuatku semakin bebas dalam melihat apa yang ada padaku saat ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam yang sedang iseng dan nganggur&lt;br /&gt;Gani.&lt;br /&gt;Jakarta 20110.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(diharapkan kepada yang akan menyalin dan menyebarkan artikel ini, meminta ijin terlebih dulu kepada Romo Gani&lt;br /&gt; - yogas@indo.net.id )&lt;br /&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7264901-108743461406422086?l=ai-journal.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7264901/posts/default/108743461406422086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7264901/posts/default/108743461406422086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ai-journal.blogspot.com/2004/06/terikat-dan-hilang-oleh-rm-gani-cm.html' title='TERIKAT  DAN  HILANG oleh Rm. Gani, CM'/><author><name>lucian2k</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01545231530764454746</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://www.aseanenergy.org/ricky/images/lucia.jpg'/></author></entry></feed>
